BPCB Sumbar Sarankan Pemkab Rohul Perlu Bentuk Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten

01 Mei 2019, 20:50:20 WIB

By Ari Fijri

BPCB Sumbar Sarankan Pemkab Rohul Perlu Bentuk Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten
Sekda Abdul Haris, mendengarkan keterangan dari Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat (Sumbar), menyarankan ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rokan Hulu (Rohul) untuk membentuk Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten.

PASIR PENGARAIAN - Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat (Sumbar), menyarankan ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rokan Hulu (Rohul) untuk membentuk Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten.

Itu disampaikan Kepala Seksi‎ (Kasi) Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB Sumbar Agus Trimulyono, usai ekspos di hadapan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Rohul H. Abdul Haris S.Sos, M.Si, di Aula Rapat Kantor Bupati Rohul, Senin (29/4/2019) lalu.

Menghadirkan Ketua Komisi II DPRD Rohul Hj. Sumiartini, sejumlah Tokoh Masyarakat Tambusai dan Rambah Hilir, Sekretaris Pekerja Benteng Tuanku Tambusai Dalu-Dalu Jonnaidi Dasa, dan Kepala OPD di Lingkungan Pemkab Rohul.

Agus Trimulyono‎ mengatakan, Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten perlu dibentuk supaya seluruh cagar budaya dan diduga cagar budaya yang ada di Kabupaten Rohul terinventarisir dengan baik, melalui tim pendaftarnya.

"Dari sini baru dikelola, mau diapakan itu. Bila masjid ya arahkan saja ke religi, pariwisatanya bisa dimanfaatkan," saran Agus Trimulyono‎ usai ekspos di Kantor Bupati.

‎Membahas Benteng Tujuh Lapis, atau Benteng Tuanku Tambusai Dalu-Dalu di Kelurahan Tambusai Tengah, Kecamatan Tambusai, Agus juga menyarankan agar cagar budaya ini dikembangkan sebagai kawasan yang bersejarah, namun harus dibuat master plan dan site plannya.

"Ini harus dikembangkan betul-betul. Untuk pertama‎ harus serius dilakukan, kedua adalah relokasi 35 KK (kepala keluarga) yang ada di dalamnya, mau seperti apa, itu harus diselesaikan," kata Agus.

Pasca relokasi, kata Agus‎, Pemkab Rohul baru bisa bicara pembugaran, apa yang akan kita lakukan di lokasi Benteng Tuanku Tambusai, termasuk restorasi dikembalikan fungsi benteng, atau memanfaatkan Sungai Sosah sebagai tujuan wisata, seperti dibangun sebuah jembatan gantung di lokasi tersebut.

Baca Juga :

"Secara destinasi wisata sangat menarik dan sangat potensial untuk dikembangkan," ujarnya.

Sedangkan makam Raja-Raja Kerajaan Rambah, kata Agus, di lokasi itu ada bekas istana Kerajaan Rambah, namun masih perlu melakukan kajian, sebab bekas istana atau sandi (tonggak) istana belum ditemukan.

"Jelasnya, itu sudah kita zoning dan kita selamatkan, nantinya pengembangannya bisa untuk wisata religi,"‎ saran Agus lagi.

Di tempat sama, Sekda Rohul Abdul Haris menyambut baik dukungan serta keseriusan BPCB Sumbar yang membawahi wilayah Sumbar, Riau, dan Kepulauan Riau, dalam menggali cagar budaya yang ada di Kabupaten Rohul.

Abdul Haris mengatakan Pemkab Rohul akan melakukan restorasi Makam Raja-Raja Kerajaan Rambah yang berlokasi di Desa Rambah, Kecamatan Rambah Hilir serta Benteng Tujuh Lapis yang berlokasi di Dalu-Dalu Kelurahan Tambusai Tengah, Kecamatan Tambusai.

"Kita akan kembali merestorasi bangunan-bangunan di benteng dan Makam Raja-Rambah, supaya generasi muda kita ke depan mengenal sejarah, baik sejarah tentang Kerajaan Rambah dan perjuangan Tuanku Tambusai," jelas Abdul Haris.

Menurut Haris, dengan saran dari BPCB Sumbar, Pemkab melalui Disparbud Rohul akan mengembalikan bentuk asli Benteng Tujuh Lapis.

‎"Kita harapkan dapat memanfaatkan kedua situs tersebut. Bagi pemerintah ada dua kepentingan, pertama kepentingan sejarah dan kedua kepentingan sebagai destinasi wisata ke depan," pungkas Sekda Kabupaten Rohul, Abdul Haris.

Kepala Disparbud Rohul, Yusmar mengatakan, Pemkab Rohul, melalui dinasnya akan serius dalam mengembangkan cagar budaya yang ada di daerahnya,‎ termasuk Makam Raja-Raja Kerajaan Rambah dan Benteng Tujuh Lapis.

Berkat kerja keras Disparbud Rohul dan BPCB Sumbar, di 2019 Pemkab Rohul menerima bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Kementrian Pariwisata sebesar Rp1,3 miliar untuk pembangunan 4 item yang ada di lokasi Makam Raja-Raja Kerajaan Rambah.

"Untuk empat item, pertama mushola, kedua jalan setapak, ketiga lampu penerangan, dan ke empat pagar pembatas," jelas Yusmar.

Kata Yusmar, supaya pelaksanaan pembangunan tidak menyalahi aturan, apalagi pelestarian cagar budaya tentu diperlukan ahli, baik dari BPCB Sumbar dan Arkeolog Sumatera Utara yang membawahi lima provinsi (Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, dan Kepri) telah turun ke Kabupaten Rohul.

"‎Berdasarkan penentuan zonasi yang ditentukan oleh BPCB tidak ada masalah lagi," jelas Yusmar.

Mengenai  saran BPCB Sumbar, agar Pemkab Rohul membentuk Tim Ahli Cagar Budaya, Yusmar mengatakan pembentukan memang sudah digariskan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Dirjen Kebudayaan, serta diperkuat surat Gubernur Riau‎.

"Ini akan segera kita tindaklanjuti dan akan dikomunikasikan dengan pak Bupati dan pak Sekda," kata Yusmar.

Menurut Yusmar, pembentukan Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten banyak memerlukan ahli, baik‎ ahli sejarah, hukum, arkeolog,‎ dan ahli lainnya, sehingga perlu disusun serius.

"Kemudian, juga perlu pendanaan yang jelas. Ketiga lagi, tim ahli ini juga harus dilatih, pelatihan bisa saja di sini atau di bisa saja Jakarta. Jelasnya mereka harus punya sertifikat baru bisa menentukan atau bisa menjadi tim," kata Yusmar dan mengaku pihaknya akan berusaha membentuk Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten di Rohul (Adv/Pemkab Rokan Hulu)

Rekomendasi Untuk Anda