Boudah : Tradisi kesenian adat pujian kepada Rasulullah

30 Jun 2022, 08:58:49 WIB

By Aufaa FR

Boudah : Tradisi kesenian adat pujian kepada Rasulullah
Boudah : Tradisi kesenian adat pujian kepada Rasulullah

RohultodayID - Bobano merupakan sebuah nama alat yang digunakan dalam mengiringi lantunan syair  berisi pujian kepada nabi Muhammad SAW. Bobano ini dibawakan atau disuarakan oleh 10 atau 15 orang laki- laki yang saling bersautan satu dengan yang lainnya.

Suara yang tersusun dimulai dari suara atau nada paling rendah hingga suara atau nada paling tinggi. Alat bobano itu sendiri terbuat dari kayu yang dibalutkan kulit kambing.

"Bobano itu sendiri terbuat dari kayu yang dibalutkan kulit kambing", begitu dikatakan Lismardi Mamak Mao Sutan salah seorang pengisi suara dari boudah.

Boudah juga memiliki nama lain yaitu Qosidah burdah, dimana tradisi kesenian ini di Luhak Kepenuhan Negeri BERADAT ( Bersih, Elok Ramah, Agamis, Dinamis, Akademis dan Terpimpin ) selalu dilantunkan dalam acara adat istiadat seperti pernikahan, khitanan, pemberian nama anak, atau hari besar Islam dan atau hari besar kenegaraan.

Dikatakan lagi oleh mamak Mao Sutan ini untuk memberikan suara yang bagus dan melengking disiapkan beberapa menu makanan untuk para Pemain boudah ini yaitu "sopodeh merah" atau lingkuas yang telah diiris dalam piring kemudian ada garam, kedua kopi kampong dan ketiga rujak nenas.

Ditempat terpisah, Ismail Dt Podano Montoi Luhak Kepenuhan Negeri BERADAT mengungkapkan bahwa di luhak kepenuhan, kesenian Boudah atau borudah ini hanya tinggal 2 group yang masih eksis yaitu satu group di Pasir Pandak Desa Kepenuhan Timur yang merupkan boudah tertua di Luhak Kepenuhan dan kedua adalah di Galian Tanah Desa Kepenuhan Barat Mulia.

Sedangkan untuk 5 luhak Negeri Seribu Suluk ini,  Luhak Rambah yang masih banyak eksis lebih dari 20 group boudah, di Luhak Tambusai perlu menjadi perhatian sesuai dengan bida Adat Ilang Dicai Tokolamun dikokeh, di Luhak Kunto hanya tinggal 4 Group yaitu yang aktif di koto intan dan kembang damai, sedang di Luhak Rokan boudah ini sama dengan Bodikie ada sejak zaman kerajaan Rokan, sejak berdiri istana Rokan, tahun 1901.

"Kita harapkan budaya dan kesenian boudah yang ada di 5 Luhak ini terus eksis dan dilestarikan, bukan hanya eksis untuk ditampilkan dalam Kegiatan keadatan dan sosial keagamaan serta pemerintahan, akan tetapi juga di ajarkan atau diturunkan ke anak cucu dan anak kemenakan serta masyarakat Negeri Seribu Suluk pada umumnya", tegas Ismail Dt Podano Montoi penerima Anugrah Tokoh Budaya Riau ini. (Rtd/ release)

Baca Juga :

Rekomendasi Untuk Anda