UPTD Puskesmas Rambah Catat 43 Penderita DBD

25 Nov 2019, 12:12:59 WIB

By Ari Fijri

UPTD Puskesmas Rambah Catat 43 Penderita DBD
Ilustrasi Nyanmuk Aedes Aegepty

PASIR PENGARAIAN - Pihak UPTD Puskemas Rambah mengakui, saat ini sudah terdata 43 warga sejumlah desa/ kelurahan di Kecamatan Rambah yang terserang Demam Berdarah Dengue (DBD).

itu ditegaskan Kepala UPTD Puskesmas Rambah, Syafri Maldi, didampingi Pj Upaya Kesehatan Masyarakat Juli Supriadi, Kamis (21/11/2019), namun hal itu tidak menutup kemungkinan akan adanya tambahan data warga yang terserang DBD.

Seperti musim pancaroba atau pergantian musim panas ke musim penghujan di waktu sebelumnya, sering terjadi DBD yang menyerang warga. Bahkan untuk di Rambah, DBD yang terjadi di daerah indemik DBD, seperti kawasan Desa Koto Tinggi kini warga terserang DBD capai 11 orang dari 43 kasus.

"Ternasuk di Kelurahan Pasir Pangaraian, ditemukan 6 kasus, Rambah Tengah Barat 6 kasus serta Desa Pematang Berangan 3 kasus.Ini akibat tingkat kesadaran masyatakat membersihkan lingkungan tempat tinggalnya minim. Padahal dengan melakukan pembersihan lingkungan dengan menerapkan 3M maka akan jauh dari wabah DBD," terang Syafri Maldi.

Syafri Maldi juga menegaskan, bahwa sudah dipastikan warga terserang DBD kawasan lingkungannya kotor. Juga babyak ditemukan botok kosong, ember atau barang elektrobik, bna bekas yang dapat menampung air hujan dan jadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aides Agepty penyebab DBD.

Baca Juga : Terkait Larangan Cadar dan Celana Cingkrang, Achmad : Jalankan Perintah Agama Dilindungi UUD 1945

"Kita sudah berikan himbauan bahaya DBD di musim pancaroba, sosialisasi kesehatan ke masyarkat, dan lainnya.Namun yang ampuh agar tidajk berkembang biaknya nyamuk DBD hanya dengan cara membersihkan lingkungan tempat tinggalnya masing- masing," ucap Syafri Maldi yang akrab disapa Efi.

Juli Supriadi juga menjelaskan, warga yang dikatagorikan terserang DBD Apablia trombosit di bawah 100 ribu.Pihaknya mendata warga terkena DBD Dar data yang masuk, dapat berita dari hasil labor pasien, dan DBD tergantung daya tahan tubuh pasien itu.

Baca Juga :

"DBD merupakan penyakit perkotaan, karena pola hidup masyarakatnya yang kurang peduli terhadap lingkungannya. Kalau di daerah transmigrasi, masyarakatnya setiap minggu gelar gotong royong bersihkan lingkungan, sehingga DBD tidak berkembang biak," ucap Juli.

Baca Juga : Anggota MPR/ DPR RI Achmad, Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ke Mahasiswa

Juli juga menyatakan, penyakit DBD sebenarnya penyakit berbahaya daripada HIV atau AIDS. Karena orang terkena HIV atau AIDS bisa bertahun tahun baru meninggal.Sedangkan penderita DBD bila kekebalaan tubuhnya tidak ada maka dalam seminggu bila tidak ditangani dengan benar, maka penderita bisa meninggal dunia.

"Sehingga kami menghimbau, masyarakat bisa terapkan pola hidup bersih terhadap lingkungannya. Agar DBD di musim pancaroba ini tidak mewabah ke masyarakat," imbau Juli. (Fjr)

Rekomendasi Untuk Anda