Melalui FGD, Polres Rohul Ajak Masyarakat Ikut Antisipasi Paham Radikalisme

21 Nov 2019, 10:46:29 WIB

By Aufaa FR

Melalui FGD, Polres Rohul Ajak Masyarakat Ikut Antisipasi Paham Radikalisme
Para peserta foto bersama dengan Kapolres dan Kakan Kemenang, saat digelarnya Forum Group Discussion FGD yang ditaja Binmas Polres Rohul.

PASIR PENGARAIAN - Polres Rokan Hulu (Rohul), ajak seluruh elemen masyarakat agar ikut mengantisipasi paham radikalisme di daerahnya.

Itu disampaikan juga oleh Kapolres Rohul AKBP Dasmin Ginting SIK, saat berikan amanat di Forum Group Discussion (FGD), tema Meningkatkan Kesadaran Hukum Masyarakat Guna Menolak Paham Radikalisme, Anti Pancasila, Terorisme dan Intoleransi, di Convention Hall Masjid Agung Islamic Center Pasir Paangaraian, Selasa (20/11/2019).

Kapolres Rohul AKBP Dasmin Ginting, melalui Kasat Binmas Polres Rohul AKP Hermawan mengayatakan, giat FGD sehari diikuti para Camat, Kepala Desa, lurah, Kapolsek, Kanit Binmas, Bhabinkamtibmas, serta para Tokoh Masyarakat‎ se Rohul, yang dibuka Kapolres Rohul‎.

AKP Hermawan mengaku, pihaknya menghadirkan dua narasumber yakni Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Rohul Drs H Syahrudin M.Sy, dan pimpinan Pondok Pesantren Babussalam Kecamatan Tandun H Ahmad Suhada.

‎Di FGD tersebut kata AKP Hermawan, dibahas berbagai hal tentang radikalisme,‎ kebangsaan, empat pilar yang dipaparkan langsung oleh Kapolres Rohul AKBP Dasmin Ginting, dan lainnya

Katanya, Kepolisian belum bisa mengatakan, ada tidaknya paham radikal di wilayah hukumnya. Namun jelasnya, Satuan Binmas Polres Rohul‎ terus mengimbau masyarakat melalui berbagai kegiatan untuk mengantisipasi paham dilarang di Indonesia ini, termasuk salah satu contohnya melalui FGD.

Baca Juga : Abdul Haris Lantik 139 Pejabat Eselon III dan IV Dilingkup Pemkab Rohul

Hermawan berharap, seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Rohul ikut menjaga keutuhan NKRI, dan tidak terpengaruh dengan pemahaman-pemahaman anti Pancasila.

Baca Juga :

    "Mari bersama kita jaga persatuan dan kesatuan bangsa ini,"‎ harap AKP Hermawan.

    Kakan Kemenag Rohul Syahrudin mengatakan, bahwa secara langsung dan laporan resmi, Kemenag belum menemukan ada gerakan paham radikal di daerah berjuluk Negeri Seribu Suluk.

    Dalam mengantisipasi munculnya paham radikalisme, Kemenag‎ dengan program terbarunya yang dirancang oleh Menteri Agama Fachrul Razi, menerapkan ‎lima prioritas aksi, pertama soal deradikalisasi yaitu mengantisipasi paham radikal seperti melakukan pendekatan dengan kelompok-kelompok umat beragama.

    Baca Juga : Dituduh Hamili Siswi SMA, Pemuda di Pasir Jaya ini Ditangkap Polisi

    "Melalui pendekatan itu nanti bisa mengantisipasi berbagai paham, terutama yang menjurus radikalisme," jelas Syahrudin.

    Jelasnya, paham radikalisme biasanya terselubung, atau tidak dilakukan terangan-terangan dalam menyebarkan‎ pahamnya, sehingga dibentuk kelompok-kelompok tertentu untuk menyebarkannya.

    "Sehingga kita sampaikan ke masyarakat, kalau ada kelompok-kelompok pengajian yang tertutup dengan orang lain, misalnya dia mengadakan pengajian tapi ditutup pintu‎nya semuanya ini perlu dicurigai, karena Islam itu harus disyiarkan, harus dipahami oleh semua orang, tak boleh disembunyi-sembunyikan," imbaunya.

    Baca Juga : Bupati Sukiman Sampaikan RAPBD Rohul 2020 dan RTRW di Paripurna DPRD

    Syahrudin juga mengu‎ngkapkan, bahwa penyebab munculnya paham radikalisme sebagian besar karena pemahaman agama yang setengah-setengah, dan bukan belajar dari ahlinya, ditambah lagi beban ekonomi dan beban politik, sehingga paham terselubung ini bisa berkembang.

    "Dia hanya percaya dengan seseorang yang langsung diserap oleh fikirannya, sehingga terjadi pencucian otak."

    "Setelah ada pencucian otak, dia tidak mau lagi menerima yang lain‎, bahkan gurunya itu sudah dianggapnya seperti nabi, apa yang diperintahkan oleh gurunya itu dia sudah tahan mati dia akan menjalankannya," ujarnya.

    Syahrudin juga menerangkan, pemahaman radikal‎ juga diindikasi karena seseorang yang tidak banyak membaca kitab‎ (buku), padahal dalam Islam harus dipelajari banyak buku.

    Baca Juga : Diterima Bupati Sukiman, Rohul Raih Penghargaan Swasti Saba Padapa 2019

    "Kata beberapa ulama kalau belum baca seratus kitab jangan coba-coba membuat dokrin. Jadi ini yang belum dilakukan, tiba-tiba dia sudah konsumsi sebuah ajaran, lalu dipelihara ajaran tersebut dalam dirinya lalu apa yang diperintahkan oleh yang mengajarkannya maka dia lakukan," ungkap Syahrudin, dan mengaku paham radikal hanya tidak terfokus pada satu agama saja.

    Syahrudin juga menambahkan, upaya mengantisipasi paham radilisme ini, Kemenag Rohul berdayakan sekira 130 penyuluh agama yang ada di setiap desa dan mereka telah diberikan materi dan Diklat bagaimana cara mencegah radikalisme. (Fjr)

    Rekomendasi Untuk Anda